FORUM STUDI ISLAM KAFFAH

November 30, 2009

Perbedaan Pendapat Terkait Pengucapan Niat Sholat

Filed under: Uncategorized — fostisa @ 07:53


Dalam fikih sholat kita jumpai perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya pengucapan lafal niat sholat.Yang harus difahami bahwa ini adalah perkara furu’iyah (perkara cabang) yang di dalam islam boleh adanya perbedaan pendapat. Sebagai seorang muslim kewajiban bagi kita adalah menggali pendapat dengan dalil yang terkuat serta mengamalkannya. Berikut kami sampaikan kedua pendapat tersebut sebagai bahan referensi.

1. Pendapat yang menolak pengucapan Niat Sholat

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya.  (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain. Baca Al Irwa’, hadits no. 22).

 

Sholat mempunyai satu syarat yang membedakan antara jenis sholat yang satu dengan sholat yang lainnya atau bahkan antara jenis ibadah yang satu dengan ibadah lainnya yaitu niat. Niat adalah syarat awal ketika seseorang hendak melakukan sesuatu meliputi ibadah termasuk sholat, pekerjaan, dll dan tempat niat adalah di dalam hati. Niat adalah syarat fundamental dalam sebuah amal akan tetapi tidak berlebihan dalam melakukannya maksudnya tanpa membebankan diri dengan pengucapannya. Contohnya, melafadzkan niat ketika akan sholat. Bahkan seorang ulama menjelaskan bahwa melafadzkan niat merupakan suatu kekurangan dalam akal dan agamanya. Seseorang melafadzkan niat ketika sholat, itu merupakan bukti bahwa dia mempunyai perhatian yang kurang terhadap petunjuk Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam dalam masalah sholat.

 

Bahkan beliau bersabda “Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku sholat” (Hadist Riwayat Bukhori, Muslim dan Ahmad) itu berarti setiap muslim wajib untuk mencontoh bagaimana beliau melaksanakan sholat dari awal hingga akhir. Tidak boleh dari awal saja sampai pertengahan atau juga tidak boleh dari pertengahan saja hingga akhir akan tetapi dari awal hingga akhir.

 

Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam tidak melafadzkan niat, tidak memerintahkan umatnya untuk mengucapkannya dan tidak pula di kerjakan oleh seorangpun dari para sahabat beliau. Jadi beliau dan para sahabatnya ketika akan mengerjakan sholat, tidak seorangpun dari mereka yang melafadzkan niat sehingga mengatakan “Usholli fardhul … dst atau saya berniat sholat fardhu ini dan dengan jumlah raka’at sekian”. Alloh Maha Mengetahui apa yang terbetik di dalam hati kita dan perlukah kita memberitahukan kepada Alloh dengan lisan kita ketika akan sholat bahwa kita akan sholat ini dan jumlah raka’atnya sekian? Maka jawabnya, tidak perlu karena Alloh telah mengetahui hal tsb.

 

Kemudian jika anda di tanya oleh seseorang “Mana dalil yang menyatakan bahwa Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam tidak melafadzkan niat ketika akan sholat?” maka katakanlah “Ada dan inilah dalilnya. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha dia berkata “Dulu Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam membuka sholatnya dengan takbir” (Hadist Riwayat Muslim). Hadist ini menjelaskan bahwa beliau tidak membuka sholatnya dengan lafadz niat akan tetapi dengan lafadz takbir”.

 

 

Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan.  Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, Apakah orang sholat mengatakan sesuatu sebelum dia takbir? Imam Ahmad menjawab, Tidak. (Masaail al Imam Ahmad hal 31 dan Majmuu’ al Fataawaa XXII/28).  AsSuyuthi berkata, Yang termasuk perbuatan bid’ah adalah was-was (selalu ragu) sewaktu berniat sholat. Hal itu tidak pernah diperbuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para shahabat beliau. Mereka dulu tidak pernah melafadzkan niat sholat sedikitpun selain hanya lafadz takbir.  Asy Syafi’i berkata, Was-was dalam niat sholat dan dalam thaharah termasuk kebodohan terhadap syariat atau membingungkan akal. (Lihat al Amr bi al Itbaa’ wa al Nahy ‘an al Ibtidaa’).

 

Kemudian ada pertanyaan yang sangat menarik “Tadi anda menyebutkan bahwa Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam tidak melafadzkan niat ketika akan sholat akan tetapi beliau memulainya dengan bertakbir. Dan sekarang, mungkinkah jika seseorang berniat bersamaan dengan mengucapkan takbir?”   Maka jawabannya “Tidak mungkin dan itu termasuk hal yang mustahil. Bahkan dalam menanggapi pertanyaan ini Imam asy Syafi’i berkata ‘Tidak ada ucap lisan yang bisa bersamaan dengan kata hati. Mayoritas orang mengaku kesulitan melakukan itu. Siapa yang mengaku bisa membarengkan ucapan lisan dan kata hati berarti dia telah mengaku mengerjakan hal yang tidak masuk akal. Itu di sebabkan karena lisan adalah juru terjemah isi hati. Sedangkan isi hati yang di terjemahkan jelas lebih dahulu ada daripada lafadz niat yang diucapkan. Sangat tidak bisa di bayangkan keduanya bisa bersamaan pada satu waktu. Bagaimana mungkin bisa membarengkan dua hal yang salah satu dari keduanya ada terlebih dahulu’. Jadi sebelum sholat tertentu (sunnah maupun fardhu) anda berniat terlebih dahulu di dalam hati kemudian baru anda bertakbir.”

 

 

Al-Qadhi Abur Rabi’ Sulaiman bin ‘Umar Asy Syafi’i mengatakan:
“Melafazhkan niat di belakang imam bukan perkara sunnah, bahkan hukumnya makruh. Jika mengganggu orang lain, maka hukumnya haram. Barangsiapa yang mengatakan bahwa melafazhkan niat termasuk sunnah, maka dia salah; dan tidak halal bagi siapapun berkata dalam agama Allah tanpa ilmu.” (Al Qaulul Mubin Fi Akhtha’il Mushallin, hlm. 91).

 

Abu Abdillah Muhammad bin Qasim At Tunisi Al Maliki  mengatakan: “Niat termasuk amal hati, dan melafazhkan niat adalah bid’ah. Disamping itu, juga mengganggu orang lain.” (Ibid, hlm. 91).

 

Talafuzh (melafazhkan) niat tidak pernah dicontohkan oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika berwudhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membaca “nawaitu raf al hadatsil ashghar”, dan tidak juga membaca “nawaitu raf al hadatsil akbar” ketika mandi janabah (junub). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak melafazhkan niat “nawaitu fardha Dhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati”, …ketika mulai shalat atau ketika mulai puasa dan lainnya. Melafazhkan niat tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun,  baik dengan riwayat yang shahih, dhaif, maupun mursal. Tidak  seorangpun sahabat yang meriwayatkan, dan tidak ada seorang  tabi’in pun yang menganggap baik masalah ini, dan tidak pula  dilakukan oleh empat Imam Madzhab yang mashur, seperti Imam Hanafi, Maliki, Syaf i’i dan Hanbali.

 

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan talafuzh niat, meski hanya  satu kali dalam shalatnya, dan tidak pula dilakukan oleh para  khalifahnya. Ini adalah petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa  sallam dan sunnah para sahabat. Tidak ada petunjuk yang lebih  sempurna, melainkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam, sebagaimana sabdanya: Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Imam Jalaluddin As Suyuti (wafat th. 921 H) berkata: “Di antara  perkara yang termasuk bid’ah ialah, was-was dalam niat shalat.  Hal ini tidak pernah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan tidak juga para sahabatnya. Mereka tidak pernah  mengucapkan sesuatu bersama niat shalat (nawaitu ushalli, … ),  selain hanya takbiratul ihram saja.

 

Sebab kekeliruan orang-orang yang mengikuti madzhab Syafi’i  ialah, karena kesalahfahaman dalam memahami perkataan  Imam Asy Sayafi’i. Imam Syaf i’i mengatakan: “Apabila  seseorang niat haji dan umrah sudah cukup, meskipun tidak  dilafazhkan. (Ini) berbeda dengan shalat, karena shalat itu tidak sah melainkan dengan ucapan.” Imam Nawawi mengatakan: “Telah berkata para sahabat kami  (ulama dari madzhab Syafi’i), orang yang memahami bahwa  ucapan itu (ushalli,…) adalah keliru. Karena yang dimaksud  Imam Asy Syafi’i bukan demikian. Akan tetapi, yang dimaksud beliau rahimahullah adalah ucapan mulai shalat, yaitu takbiratul ihram.

 

Dikutip dari buku Fikih Niat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Pendapat yang membolehkan pengucapan niat sholat

Hadits-Hadist dasar Dasar Talaffudz binniyah (melafadzkan niat sebelum takbir)

 

  1. Diriwayatkan dari Abu bakar Al-Muzani dari Anas Ra. Beliau berkata :

“Aku pernah mendengar rasulullah Saw. Melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan : “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah”.  (Hadith riwayat Muslim – Syarah Muslim Juz VIII, hal 216)). Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz binniyah diwaktu beliau melakukan haji dan umrah. Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Tuhfah, bahwa Usolli ini diqiyaskan kepada haji. Qiyas adalah salah satu sumber hukum agama.

 

2. Hadits Riwayat Bukhari dari Umar ra. Bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda ketika tengah berada di wadi aqiq :”Shalatlah engkau di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah “sengaja aku umrah didalam haji”. (Hadith Sahih riwayat Imam-Bukhari, Sahih BUkhari I hal. 189 – Fathul Bari Juz IV hal 135) Semua ini jelas menunjukan lafadz niat. Dan Hukum sebagaimana dia tetap dengan nash juga bisa tetap dengan qiyas.

 

3. Diriwayatkan dari aisyah ummul mukminin Rha. Beliau berkata :

“Pada suatu hari Rasulullah Saw. Berkata kepadaku : “Wahai aisyah, apakah ada sesuatu yang dimakan? Aisyah Rha. Menjawab : “Wahai Rasulullah, tidak ada pada kami sesuatu pun”. Mendengar itu rasulullah Saw. Bersabda : “Kalau begitu hari ini aku puasa”. (HR. Muslim). Hadits ini mununjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz bin niyyah di ketika Beliau hendak berpuasa sunnat.

 

4. Diriwayatkan dari Jabir, beliau berkata :

“Aku pernah shalat idul adha bersama Rasulullah Saw., maka ketika beliau hendak pulang dibawakanlah beliau seekor kambing lalu beliau menyembelihnya sambil berkata : “Dengan nama Allah, Allah maha besar, Ya Allah, inilah kurban dariku dan dari orang-orang yang tidak sempat berkurban diantara ummatku” (HR Ahmad, Abu dawud dan turmudzi) Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah mengucapkan niat dengan lisan atau talafudz binniyah diketika beliau menyembelih qurban.

Beberapa Pendapat mengenai melafadzkan niat

1. Didalam kitab Az-zarqani yang merupakan syarah dari Al-mawahib Al-laduniyyah karangan Imam Qatshalani jilid X/302 disebutkan sebagai berikut :

“Terlebih lagi yang telah tetap dalam fatwa para shahabat (Ulama syafiiyyah) bahwa sunnat melafadzkan niat (ushalli) itu. Sebagian Ulama mengqiyaskan hal tersebut kepada hadits yang tersebut dalam shahihain yakni Bukhari – Muslim.

 

Pertama : Diriwayatkan Muslim dari Anas Ra. Beliau berkata : “Aku pernah mendengar rasulullah Saw. Melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan : “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah”.

Kedua, Hadits Riwayat Bukhari dari Umar ra. Bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda ketika tengah berada di wadi aqiq :”Shalatlah engkau di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah “sengaja aku umrah didalam haji”.

Semua ini jelas menunjukan lafadz niat. Dan Hukum sebagaimana dia tetap dengan nash juga bisa tetap dengan qiyas.

 

2. Berkata Ibnu hajar Al-haitsami dalam Tuhfatul Muhtaj II/12

“Dan disunnahkan melafadzkan apa yang diniatkan sesaat menjelang takbir agar supaya lisan dapat menolong hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syaz yakni menyimpang. Kesunatan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzan dalam niat haji”.

 

3. Berkata Imam ramli dalam Nihayatul Muhtaj Jilid I/437 :

“Dan disunnatkan melafadzkan apa yang diniatkan sesaat menjelang takbir agar supaya lisan menolong hati dank arena pelafadzan itu dapat menjauhkan dari was-was dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya.”

 

4. DR. Wahbah zuhaili dalam kitab Al-fiqhul islam I/767 :

“Disunnatkan melafadzkan niat menurut jumhur selain madzab maliki.”

Adapun menurut madzab maliki  diterangkan dalam kitab yang sama jilid I/214 bahwa :

“Yang utama adalah tidak melafadzkan niat kecuali bagi orang-orang yang berpenyakit was-was, maka disunnatkan baginya agar hilang daripadanya keragu-raguan”.

 

 

_pengurus Fostisa_

 

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: