FORUM STUDI ISLAM KAFFAH

June 2, 2009

Resume dan Kritik Buku ‘Ilusi Negara Islam’

Filed under: Uncategorized — fostisa @ 07:39

Garis besar Buku ini:

Buku ini berisi empat tulisan dari penulis yang berbeda. Pertama, prolog tulisan Syafi’i Ma’arif. Kedua, pengantar editor tulisan Abdurrahman Wahid. Ketiga, tulisan ‘hasil penelitian’. Dan keempat, epilog tulisan KH Mustofa Bisri.

Tulisan Syafi’i Ma’arif:

  1. Judul: Masa Depan Islam di Indonesia
  2. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada nasib umat islam di Indonesia. Dari segi jumlah, 88,22%. Dua organisasi besar, yakni NU dan Muhammadiyyah masih mengembangkan sikap ramah, bahkan terhadap orang yang tidak beriman selama masih menghormati perbedaan pandangan.
  3. Bencana terjadi karena adanya sekompok pemeluk agama yang kehilangan daya nalar dan menghakimi semoa orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya yang monolitik. Merekalah yang biasa disebut sebagai kaum fundamentalisme
  4. Munculnya fundamentalisme dalam Islam disebabkan karena beberapa hal. Pertama, kegagalan menghadapi modernitas. Kedua, dorongan rasa kesetiakawanan yang menimpa saudara-saudara mereka di Palestina, Irak, Kashmir, dsb. Ketiga, kegagalan negara dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, korupsi yang merajalela, dsb.
  5. Meskipun disadari Indonesia penuh masalah, namun tidak mungkin diatasi oleh otak-otak sederhana’. Harapan tetap disandarkan kepada Islam yang moderat dan inklusif.

Tulisan Abdurrahman Wahid:

  1. Judul: Musuh dalam Selimut
  2. Bahwa buku ini diterbitkan oleh LibForAll, sebuah organisasi nonpemerintah yang bertujuan untuk menyebarkan kedamaian, kebebasan, dan toleransi di seluruh dunia. Untuk tujuan tersebut, lebih mengutamakan pendekatan spiritual yang mendorong terjadinya transformasi.
  3. Dalam diri manusia selalu terjadi ketegangan bathiniah antara roh dan hawa nafsu yang berdampak pada aktivitas lahiriyyah dan memicu konflik antarindividu maupun sosial.
  4. Hawa nafsu menyimpan potensi destruktif dan membuat jiwa menjadi resah, gelisah, dan tidak tenang. Mereka yang dapat menguasai hawa nafsu menjadi pribadi yang tenang dan damai (al-nafs al-muthmainnah), seperti para pandhawa. Sedangkan mereka yang dikuasai hawa nafsu menjadi pribadi yang resah dan menjadi biang kegelisahan (al-nafs al-lawâmah), seperti kurawa.
  5. Meskipun selalu terjadi ketegangan, namun di Nusantara selalu dimenangkan oleh pribadi yang tenang. Buktinya, dianutnya prinsip ‘Bhineka Tunggal Ika’ oleh Mpu Tantular. Demikian juga dengan pendirian negara bangsa, prinsip Pancasila, penolakan terhadap formalisasi agama, bisa dimasukkan di dalamnya. Beberapa tokoh dan organisasi yang termasuk di dalamnya adalah NU, HOS Cokroaminoto, Yusuf Hasyim, KH Kahar Muzakir, Soekarno, Hatta, dan tokoh-tokoh nasionalis menggagas dan mempertahankan Pancasila dan NKRI.
  6. Kelompok-kelompok garis keras yang ingin mengubah NKRI menjadi negara agama atau menggantinya menjadi khilafah Islamiyyah bisa dimaksudkan dalam al-nafs al-lawâmah. Gerakan tersebut berusaha mengganti tradisi bangsa menjadi tradisi Timur Tengah, terutama Wahabi-Ikhwanul Muslimin
  7. Karena kelompok ini menganggap selainnya kurang islami, bahkan kafir atau murtad, mereka melakukan infiltrasi ke masjid-masjid, lembaga-lembaga pendidikan, instansi-instansi pemerintah dan swasta, dan ormas-ormas Islam moderat, terutama NU dan Muhammadiyyah untuk diubah menjadi keras dan kaku.
  8. Beberapa contoh infiltrasi: pada muktamar Muhammadiyyah 2005, agen kelompok gerakan garis keras, termasuk PKS dan HTI mendominasi forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi ketua PP Muhammadiyyah. Masjid di desa kecil, Sendang Ayu, direbut oleh PKS yang gemar mengkafirkan orang. Penyusupan di NU dilakukan dengan merebut masjid-masjid milik warga NU. Ini diceritakan oleh Muadz Thahir, ketua PC NU Pati, Jateng. Caranya dengan memasukkan cleaning service, lama kelamaan menguasai masjid. Penyerobotan itu dilakukan PKS dan HTI. Penyusupan juga dilakukan terhadap MUI. Bahkan bisa dibilang, MUI merupakan bungker dari organisasi dan gerakan fundamentalis dan subversif di Indonesia. Ada anggota MUI dari HTI. Akibatnya, MUI mengeluarkan fatwa haramnya paham sekularisme, pluralisme, dan sekularisme; dan vonis sesat terhadap kelompok-kelompok tertentu.
  9. Ormas moderat itu pun berupaya untuk membersihkan organisasi dari infiltrasi itu. Muhammadiyyah mengeluarkan SK yang mencegah partai politik, termasuk PKS, masuk ke dalamnya. Sedangkan PB NU memberikan pernyataan bahwa gerakan transnasional seperti al-Qaedah, Ikhwanul Muslimin (di sini PKS) dan Hizbut Tahrir adalah gerakan berbahaya karena mengancam paham Ahlussunnah wal jama’ah dan berpotensi memecah belah bangsa. NU, melalui Bahtsul Masa’il-nya juga memutuskan bahwa khilafah tidak memiliki rujukan teologis, baik dalam al-Quran maupun Hadits.
  10. Meskipun demikian, upaya itu masih sulit karena infiltrasi itu sudah terlalu jauh. Ini dibuktikan dengan dua membership, Muhammadiyyah dan gerakan garis keras. Bahkan diperkirakan 75 % pemimpin gerakan Islam punya ikatan dengan Muhammadiyyah. NU juga belum sepenuhnya bisa menghentikan penyerobioan itu.
  11. Selain ideologi, gerakan, dan infiltrasi, perlu juga diwaspadai mengenai arus dana wahabi. Di antara yang menikmati dan menjadi penyalur dana itu adalah DDII, LDK, dan PKS. Banyak masjid dibangun dari dana tersebut.
  12. Aliran dana tersebut bersifat tertutup. Berbeda dengan yayasan Barat, seperti Ford Foundation, the Asia Foundation, dan LibForAll Foundation yang mengumumkan secara terbuka dan transparan penyaluran dana tersebut.
  13. Gerakan garis keras itu harus dilawan untuk mengembalikan kemulian dan kehormatan Islam yang telah mereka nodai sekaligus menyelamtakan Pancasila dan NKRI

‘Hasil Penelitian’:

Bab I. Studi Gerakan Transnasioan Islam dan Kaki Tangannya di Indonesia

  1. Strategi utama gerakan transnasional untuk menyebarkan ideologinya adalah membentuk dan mendukung kelompok lokal sebagai penyebar ideologi Wahabi/Salafi.
  2. Di Saudi Arabia, Sudan, Gaza, Afghanistan, dan wilayah Phustun, gerakan tersebut berhasil mendominasi. Sementara di Indonesia sudah ada penolakan. Muhammadiyyah deng SK dan NU dengan keputusan Bahtsul Masa’ailnya.
  3. Menjelaskan subyek penelitian, metode penelitian, daerah yang diteliti, dan tim yang menjadi pelaksananya.

Bab II. Infiltrasi Ideologi Wahabi-Ikhwanul Muslimin di Indonesia

  1. Wahabi muncul di Jazirah Arab dengan memiliki beberapa tabiat buruk Khawarij, seperti memahami Islam secara harfiah dan tertutup, mengkafirkan orang yang pemhaman yang berbeda, dan membunuh siapa pun yang dikafirkan. Pemikiran Wahabi menjadi signifikan karena kekuasaan Ibnu Saud dan penerusnya.
  2. Menceritakan awal mula munculnya Wahabi yang bersumber pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab serta perkembangannya.
  3. Sikap Wahabi yang keras, gemar mengkafirkan sesama Muslim bertentangan dengan Islam.
  4. Wahabi tidak hanya ditolak oleh kalangan Muslim, namun juga nonmuslimn di Barat yan menolak dan membci Islam karena aksi-aksi terorisme atas nama Islam.
  5. Gerakan Islam transnasional yang beroperasi di Indonesia adalah: (1) Ikhwanul Muslimin, melalui gerakan Tarbiyyah, kemudian melahirkan PKS; (2) HTI, yang ingin menegakan khilafah Islamiyyah; dan (3) Wahabi yang melakukan wahabisasi. Ketiga gerakan tersebut bahu membahu dalam mencapai tujuan mereka, yakni formalisasi Islam dalam bentuk negara dan aplikasi syariah sebagai hukum positif atau khilafah Islamiyyah.
  6. Hizbut Tahrir didirikan Taqiyuddin an-Nabhani karena kecewa terhadap Ikhwanul Muslimin yang terlalu moderat dan akomodatif terhadap Barat tahun 1952.
  7. Untuk mencapai tujuannya, HT menggunakan tiga tahap. Pertama, pembentukan parpol. Kedua, berinteraksi dengan masyarakat. Target utamanya adalah menyusup ke dalam pemerintahan dan militer untuk melempangkan jalan merebut kekuasaan. Dan ketiga, merebut kekuasaan.
  8. Gerakan transnasioan melakukan tiga kekerasan, yakni: (1) kekerasan doktrinal; (2) kekerasan tradisi dan budaya; dan (3) kekerasan sosiologi.
  9. Faktor yang menjadi daya tarik masuk dalam gerakan Islam transnasional adalah: (1) keuntungan finasial, (2) jargon-jargon yang kelihatan Islami
  10. Untuk mencapai tujuannya, gerakan islam transnasioanl ini menggunakan segala cara, bahkan yang bertentangan dengan ajaran Islam sekalipun (lihat hal 92).
  11. Infiltrasi ideologi Wahabi pertama di Indonesia adalah gerakan Padri.
  12. Infiltrasi gerakan transnasional di era orde baru hingga sekarang: (1) DDI, menjadi penyalur dana, pengiriman pelajar ke Saudi Arabia, pendirian LIPIA. (2) setelah orba tumbang lalu muncullah: FPI, FUI, Laskar Jihad, Jamaah Islamiyyah, MMI, PKS, KPPSI. Dalam kesempatan ini, Ikhwanul Muslimin (PKS) dan HTI menampakkan diri secara terbuka (lihat hal. 97). Gerakan-gerakan itu menyusup, mulai dari istana hingga pegunungan.
  13. Ikhwanul Muslimin dan HTI menggunakan sistem sel, sehingga lebih mudah mengendalikan pengikutnya, reoreintasi, dan cuci otak berdasarkan ideologi gerakan mereka.
  14. Agenda utama kelompok garis keras adalah untuk meraih kekuasaan politik melalui formalisasi agama. Mereka mengklaim, jika islam dijadikan sebagai dasar negara, jika syariah ditetapkan sebagai hukum positif, jika khilafah Islamiyyah ditegakkan, semua masalah akan selesai. Ini adalah utopia (lihat hal. 100). Lebih dari, formalisasi agama justru yang amat berbahayaa bagi kehidupan.
  15. Formalisasi agama anak kandung pembacaan secara harfiah atas teks-teks agama (lihat hal. 104).
  16. Kelompok garis keras telah menyusup ke masjid-masjid, sekolah, pesantren, dsb.
  17. Kelompok garis keras itu harus dihadang. Dua keuntungan sekaligus dapat diperoleh, yakni

Bab III. Ideologi dan Agenda Gerakan Garis Keras di Indonesia

  1. Ideologi kelompok garis keras adalah totalitarian-sentralistik dan menjadikan agama sebagai sumber referensi teologis (lihat hal. 117). Konesekuansinya, hukum harus mengatur semua kehidupan umat tanpa kecuali, dan negara mengontrol pemahaman dan aplikasinya secara menyeluruh (lihat hal. 119).
  2. Agenda garis keras adalah menjadi wakil Tuhan di bumi (khalîfat Allah fi al-ardl). Padahal yang bisa menjadi khalifah di bumi hanyalah orang keberagamaannya mencapai muhlisun muhsinun, yakni para wali Allah Swt. Lihat hal. 118). Wali Allah menganggap syariah sebagai jalan, bukan tujuan. Karena itu, mereka sangat toleran kepada orang berbeda.
  3. Kebutuhan akan syariah bukan murni karena kebutuhan terhadap tatanan hukum (rule of law) dan kebenaran agama, melainkan kebutuhan penegasan identitas keuntungan politik kelompok garis keras. Beberapa contohnya adalah kasus GAM, DI/TII. Mereka memberontak karena kecewa terhadap pemerintah, bukan karena alasan syariah.
  4. Yang diperjuangkan kelompok garis keras bukanlah syariah Islam, tetapai ‘syariah Islam’ versi Wahabi-Ikhwabul Muslimin.
  5. Pada tahun 2007 sudah lebih dari 10 persen dari daerah di wilayah Indonesia sudah menerapkan perda syariah (lihat hal. 135). Kenyataan ini membuat Indonesia telah bergeser dari negara Pancasila kepada negara Islam (lihat hal. ).

Bab IV Infiltrasi Agen-agen Garis Keras terhadap Islam Indonesia

  1. Infiltrasi agen garis keras dilakukan terhadap ormas-ormas di Indonesia
  2. Penyusupan terhadap Muhammadiyyah dilakukan oleh gerakan Tarbiyah, cikal bakal PKS. HTI juga menyusup melalui pada Muktamar Muhammadiyyah.
  3. Penyusupan di NU dilakukan dengan penyerobotan masjid atau musholla milik warga NU. Masdar F. Mas’udi menyatakan bahwa jumlah masjid NU yang disusupi dan diambil alih oleh kelompok-kelompok garis keras yang mengklaim dirinya paling benar itu mencapai ratusan (lihat hal. 191). Selain itu juga organisasi generasi muda NU, pondok pesantren, organisasi majelis taklim di bawah NU.

Catatan:

Buku yang disebutkan sebagai hasil penelitian ilmiah, sesungguhnya jauh dari kaidah-kaidah ilmiah. Di antara ciri penulisan ilmiah adalah berusaha objektif, menghindarkan diri bahasa dari ‘justice’ (penghakiman), didasarkan pada sumber atau referansi yang terpercaya, dan tidak melakukan generalisasi.

Bahasanya provokatif dan mengandung kebencian

Bahasa yang digunakan buku ini amat provokatif dan menebarkan kebencian terhadap kelompok yang dalam buku ini disebut sebagai ‘aliran garis keras’. Contoh:

  1. Syafi’i Ma’ari mengatakan:
  2. …bahwa ideologi mereka yang ekstrem adalah satu-satunya interpretasi yang benar tentang Islam (lihat hal. 43). Perhatikan pensifatan ekstrem terhadap ideologi gerakan Islam.
  3. Gerakan-gerakan Islam transnasional (Wahabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir) dan kaki tangannya di Indonesia sudah melakukan infiltrasi terlalu jauh ke dalam Muhammadiyyah dan sudah mematrikan hubungan dengan para ekstrimis yang sudah lama ada di dalamnya (lihat hal. 28). Perhatikan penggunaan kata kaki tangan, infiltrasi, dan ekstremis yang bernuansa negatif.
  4. Virus wahabi yang menjangkiti ketiga haji tersebut terbawa ke Sumatra Barat dan memicu perang saudara dan sesama Muslim yang sangat tragis dalam sejarah Islam Nusantara (lihat hal. 76). Perhatikan penyebutan virus wahabi. Penyebutan tersebut jelas menunjukkan muatan kebencian yang amat besar.
  5. …dan agen-agen Hizbut Tahrir telah aktif di lebih 40 negara (lihat hal. 87). Perhatikan penggunaan kata agen untuk menyebut aktivis atau syabab HT. Penggunaan kata tersebut jelas bernuansa negatif karena lazim dipakai dalam dunia intelejen.
  6. Hingga saat ini, gerakan kelompok-kelompok garis keras, mereka sudah menyebar seperti kanker ke seluruh tubuh bangsa, mulai istana hingga pegunungan (lihat hal. 97). Perhatikan penggunaan kata kanker untuk memberikan rasa takut terhadap gerakan Islam.
  7. Anehnya, para agen garis keras yang semuci (berlagak paling suci) dan sok tahu kehendak Tuhan untuk semua manusia, sangat bernafsu mengatur setiap aspek kehidupan dengan pemahaman mereka yang terbatas, kaku, relatif, dan tidak manusia (lihat hal. 114). Kata-kata semuci, sok tahu, bernafsu, pemahaman yang terbatas, kaku realtifa, dan tidak manusia jelas merupakan kata-kata yang mengandung kebencian.

Meskipun sering menggunakan gaya bahasa provokatif dan stigmatisasi terhadap gerakan Islam, namun buku ini mengecam pihak lain yang memberikan stigma terhadap kelompok liberal. Buku ini mengecam Adian Husaini yang dinyatakan telah mempopulerkan sebutan ‘Sipilis’ bagi paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme (lihat hal: )

Terjebak pada generalisasi:

Banyak menuduh ‘gerakan transnasional’ melakukan berbagai hal, tanpa disebut secara tegas organisasi yang dimaksud. Tentu saja itu merupakan kesalahan besar. Sebab, pada kenyataannya, masing-masing organisasi memiliki karakteristik, struktur organisasi, dan garuis komando yang berbeda. Sehingga ‘kesalahan’ yang dilakukan oleh satu kelompok, tidak bisa ditimpakan kepada pihak lain yang kelihatan mirip. Di antara contohnya:

  1. Kelompok-kelompok garis keras menolak eksistensi tradisi, karena itu lazimnya mereka menolak bermadzhab, menolak tradisi tasawuf, … (lihat hal. 88). Jika menolak bermadzhab dituduhkan kepada HT, jelas salah. HT mengakui, bahwa dalam kaitannya dengan kemampuan menggali hukum, manusia terbagi menjadi dua: mujtahid dan muqallid. Dalam Kitab Syakhshiyyah juga ditegaskan bahwa madzhab yang diakui adalah empat madzhab sunni dan dua madzhab syi’i.
  2. Untuk mencapai tujuannya, gerakan islam transnasional ini menggunakan segala cara, bahkan yang bertentangan dengan ajaran Islam sekalipun (lihat hal 92). Tuduhan ini jelas tidak bisa ditujukan kepada HT. Sebab, HT selalu menjadikan syariah sebagai panduannya dalam berjuang. Dalam thariqah mengikuti thariqah dakwah Rasulullah saw. Sementara dalam uslub dan wasilah diharuskan tetap berada dalam koridor syariah.

Referensi yang tidak akurat:

Referensi yang digunakan buku ini bukan berasal dari sumber primer. Lebih dari itu, buku-buku yang dijadikan sebagai referensi berasal dari pihak-pihak yang membenci gerakan Islam. Ketika membahas Hizbut Tahrir, tidak ada satu pun buku-buku mutabannat yang dijadikan sebagai sumber referensi. Sebaliknya, buku-buku yang dikutip justru tulisan Ed Husein, Zeyno Baran, dan sebagainya. Sebagai akibatnya, ada beberapa kesalahan fatal yang disebutkan oleh buku ini. Contoh:

  1. Hizbut Tahrir didirikan pada tahun 1952. Ini jelas salah. Karena HT didirikan pada tahun 1953.
  2. Pusat gerakan internasioanl Hizbut Tahrir di Inggris. Ini dikutip dari tulisan Zeyno Baran (lihat hal. 85).
  3. Pemikiran al-Nabahani di samping terpengaruh pemikiran al-Mawardi juga terpengaruh oleh Hegel, Rousseau, dan tokoh-tokoh Eropa lain. Ini dikutip dari Ed Husain (lihat hal. 85). Ini jelas tuduhan tak berdasar. Tidak ada satu pun pemikiran HT dan Syekh Taqiyuddin al-nabhani yang terpengaruh dengan pemikiran kaum kafir. Semua pemikiran dan hukum yang diadopsi HT bersandar kepada Islam.
  4. Ed Husain disebut sebagai mantan pemimpin Hizbut Tahrir di Inggris. Juga dikuti dari buku Ed Husain (lihat hal. 85). Ini jelas kedustaan. Hizb tidak pernah memiliki pemimpin bernama Ed Husain.
  5. Setelah berkuasa, HT akan memaksakan penafsiran tentang Islam a la Hizbut Tahrir semua bidang kehidupan umat manusia (lihat hal. 87). Ini jelas provokasi tidak berdasar. Dalam kitab-kitab dijelaskan, yang berhak melakukan tabanni hukum dalah khalifah. Bukan amir HT. Itu pun, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Muqaddimah Dustur, sebaiknya khalifah tidak melakukan tabanni dalam perkara aqidah dan ibadah, kecuali beberapa ibadah yang menghendaki persatuan umat Islam.

Tuduhan Tidak Berdasar

Dalam buku ini banyak memberikan tuduhan terhadap gerakan Islam yang tidak didasarkan pada data, namun didasarkan pada kebencian. Kalimat-kalimatnya pun bersifat bombastis, tidak menunjuk pada yang jelas. Contoh:

  1. Mereka memahami Islam secara monolitik dan menolak varian-varian islam lokal dan spiritual yang diamalkan umat Islam pada umumnya, sebagai bentuk pengamalan Islam yang salah dan sesat karena sudah tercemar dan tidak murni lagi (lihat hal. 43). Kalimat tersebut amat tidak jelas karena tidak menunjuk fakta yang jelas. Apa maksud monolitik? Varian-varian Islam likal dan spiritual apa yang ditolak? Siapa yang menuduh amalan tersebut sebagai amalan yang sesat dan tidak murni?
  2. Beberapa tahun sejak kemunculannya, kelompok garis keras berhasil mengubah wajah Indonesia menjadi agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian (lihat hal. 21). Kelompok garis keras mana yang dimaksudkan? Bukankah yang melakukan demo-demo anarkis justru kelompok-kelompok yang mengusung demokrasi, HAM, dan semacamnya?
  3. Dalam muktamar Muhammadiyyah bulan Juli 2005 di Malang, agen kelompok gerakan garis keras, termasuk kader-kader PKS dan HTI mendominasi forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi ketua PP Muhammadiyyah (lihat hal. 24). Tulisan itu sama sekali tidak didukung oleh fakta. Bagaimana bisa kader-kader itu mendominasi dan mempengaruhi forum? Siapa saja ketua PP Muhammadiyyah yang dianggap simpatisan itu? Tidak jelas.
  4. Berdasarkan riwayat ini, banyak aktivis kelompok garis keras yang berusaha membuat dahinya hitam …Mereka berpikir bahwa tanda hitam di dahinya itu hendak ditunjukkan sebagai bukti kepada Tuhan kelak di akhirat, padalah Allah melihat hati dan perbuatan, bukan simbol-simbol (lihat hal. 102). Tidak dijelaskan dari mana data itu diperoleh. Sebagai tulisan yang diklaim berdasarkan penelitian ilmiah, jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan.
  5. Pada satu sisi, sebagai akibat pemahaman yang literal, sempit, dan terbatas atas ajaran Islam, mereka lebih menekankan keberagamaan lahiriah dan abai terhadap yang bathiniah (lihat hal. 115).
  6. Di Aceh, tempat pemberlakuan hukum cambuk bagi pelanggar qanun, stigma syariah sebagai hukum yang kasar, keras, dan primitif tidak terbantahkan (lihat hal. 124). Dari sekian banyak responden, tampaknya tak satu pun yang menyetujui reinterpretasi syariah tentang filsafat tersebut (lihat hal. 124). Siapa memiliki anggapan seperti itu? Tidak ada data atau bukti yang jelas siapa yang memiliki anggapan seperti itu. Ini jelas, tulisan ini sama sekali tidak layak diklaim hasil penelitian. Dan lagi, kebenaran syariah tidak bisa diukur dengan orang yang setuju atau menolaknya.

Beberapa kesalahan ide mendasar dalam buku ini:

  1. Menolak penerapan hukum-hukum hudud, seperti potong tangan bagi pencuri, dsb. Alasannya, pemahaman harfiah atas ayat-ayat tersebut bertentangan dengan prinsip Islam sebagai rahmat li al-‘alamin (lihat hal. 102).
  2. Umar bin al-Khaththab tidak memotong tangan pencuri ketika menjadi Amirul Mukmin (lihat hal. 124).
  3. Menolak Hadits umirtu an uqâtila al-nâs…..Jika diartikan secara harfiah, juga bertentangan dengan prinsip Islam sebagai rahmat li al-‘alamin. Jika Islam adalah rahmat bagi seluruh makhluk, tidak mungkin memerintahkan Nabi Muhammadn saw untuk membantai nonmuslim. Hadits tersebut hanya menekankan pada tauhid, tidak disertakan penyaksian terhadap Rasullah saw. Kalau yang dimaksud memaksa masuk Islam, bertentangan dengan QS al-Baqarah [2]: 256 dan al-Kahfi [18]: 29. (lihat hal. 104).
  4. Islam tidak terpisah dengan agama lainnya. Dehingga tidak mendatangkan yang baru. Namun hanya komplementer, melengkapi, dan menyempurnakan, bukan menafikan yang lain (lihat hal. 123)
  5. Menolak penerapan syariah dalam kehidupan negara, namun sama sekali tidak menjelaskan dalil syar’i yang digunakannya.

Hal Cukup menarik:

Disebutkan bahwa M al-Khattat atau Gatot (ketika menjadi ketua HTI) menjadi peserta muktamar dan menghabisi kaum muda Muhammadiyyah yang tergabung dalam JIMM. Dalam catatan kaki, ditulis bahwa Muhammad al-Khaththath telah dipecat dari posisinya sebagai ketua HTIkarena melakukan kegiatan yang dilarang oleh HT pusat, yakni bergabung organisasi Islam lain dengan mengatasnamakan HT. Informasi itu diambil dari blol o. Sholihin (lihat hal. 184).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: